“Jakarta Light Festival” digelar 13 Februari

Jakarta siap menyambut gelaran spektakuler Jakarta Light Festival yang akan digelar pada 13 Februari 2026 mendatang. Festival cahaya ini dijanjikan menjadi pesta visual terbesar di ibu kota, mengubah malam hari menjadi kanvas seni yang memukau dengan instalasi lampu LED interaktif, proyeksi holografik, dan pertunjukan cahaya sinematik. Diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta bekerja sama dengan seniman internasional, acara ini bertujuan menghidupkan semangat kreativitas di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, sekaligus mendongkrak pariwisata pasca-libur Imlek.

Festival ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan upaya cerdas untuk merevitalisasi ruang publik yang sering kali terabaikan. Di tengah kritik tajam terhadap kemacetan lalu lintas dan polusi udara Jakarta yang kian parah—seperti dilaporkan berbagai media—penyelenggara Jawa11 menekankan konsep ramah lingkungan dengan menggunakan teknologi LED hemat energi hingga 80% dibanding penerangan konvensional. Namun, pertanyaan kritis muncul: apakah festival ini benar-benar inklusif bagi warga kelas bawah, atau hanya pesta elite di kawasan premium seperti Bundaran HI dan Pantai Indah Kapuk? Beberapa aktivis lingkungan khawatir konsumsi listrik masif bisa membebani jaringan PLN yang sudah rapuh, meski panitia klaim telah berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk mengoptimalkan pasokan.

Jadwal dan Destinasi Utama

Acara utama dimulai pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga 22.00 WIB setiap malam dari 13 hingga 16 Februari. Pengunjung bisa menikmati:

  • Bundaran HI: Pusat proyeksi cahaya 3D mapping bertema “Cahaya Harmoni Nusantara”, menampilkan motif batik digital dan tarian tradisional yang hidup.
  • Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue: Terowongan cahaya interaktif sepanjang 500 meter, responsif terhadap gerakan pengunjung via sensor.
  • Ancol dan Kota Tua: Pertunjukan drone light show dengan 1.000 drone membentuk simbol Jakarta, plus zona makanan street food khas Betawi.

Akses gratis untuk umum, tapi disarankan datang lebih awal karena kuota harian dibatasi 50.000 pengunjung demi keselamatan. Transportasi disediakan via TransJakarta eksklusif dan shuttle bus gratis dari stasiun MRT.

Dampak Ekonomi dan Kritik Berkelanjutan

Secara ekonomi, festival ini diproyeksikan menyumbang Rp500 miliar dari kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, mirip sukses Singapore Light Festival tahun lalu. Namun, dari sudut pandang kritis, kita harus waspada terhadap jebakan “event washing”—di mana pemerintah menggunakan acara megah untuk menutupi isu struktural seperti banjir musiman atau ketimpangan akses ruang publik. Apakah cahaya festival ini mampu menerangi masalah kota yang lebih dalam, atau hanya kilau sementara? Jawabannya tergantung komitmen follow-up pasca-acara, seperti investasi infrastruktur berkelanjutan.

Untuk update terkini, pantau berita dari CNN yang sering meliput event global serupa. Kembali ke Beranda untuk info lebih lanjut.