Dalam upaya memutus mata rantai radikalisme di lingkungan pendidikan, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi menggelar sosialisasi komitmen menolak paham IRET (Ideologi Radikal, Ekstremisme, dan Terorisme) kepada seluruh kepala sekolah se-Jambi. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi nasional pencegahan terorisme yang menyasar institusi pendidikan sebagai garda terdepan pembentukan karakter bangsa.
Kepala Disdik Jambi menegaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, toleransi, dan kebhinekaan. “Melalui para kepala sekolah, kami ingin memastikan bahwa setiap satuan pendidikan mampu menjadi benteng ideologi negara,” ujarnya dalam sambutan pembukaan acara.
Sosialisasi ini tidak hanya berfokus pada aspek teoretis, namun juga memberikan panduan praktis bagi guru dan kepala sekolah dalam mengidentifikasi gejala awal paham radikal di kalangan peserta didik. Materi disampaikan oleh narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan tokoh lintas agama, guna memperkuat perspektif multikultural dan moderasi beragama.
Para peserta juga diminta menyusun rencana aksi sekolah yang mencakup program literasi ideologi, ekstrakurikuler kebangsaan, serta kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari pengaruh paham yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Di tengah arus informasi yang begitu deras, peran pendidik menjadi semakin krusial. Dengan komitmen bersama, Jambi menunjukkan langkah nyata melindungi generasi muda dari ancaman ideologi destruktif. Untuk informasi lebih lanjut tentang inisiatif serupa, kunjungi Joker11.